Jumat, 23 November 2012

Sejarah Gedung Merdeka (Gedung Asia Afrika) di Kota Bandung

Jalan Asia Afrika sangat terkenal, bukan saja di Bandung tempatnya, atau di Indonesia tetapi juga jalan ini benar-benar terkenal di dunia. Ini terkait sejarah masa lalu ketika hajat besar Konferensi Asia Afrika dilaksanakan di Gedung Asia Afrika yang sekarang ini bernama Gedung Merdeka.

Gedung bersejarah yang unik ini terletak di posisi yang paling strategis di Jalan Asia Afrika. Ciri-cirinya jika ingin kesana adalah banyaknya tiang bendera yang terpasang di gedung tersebut. Dulunya memang tiang-tiang itu untuk mengibarkan bendera negara-negara yang hadir dalam konferensi terbesar selain sidang umum PBB itu. Sekarang ini tiang-tiang yang menjadi ciri itu hanya ornamen saja, seandainya bendera-bendera para peserta KAA 1955 itu masih terpasang alangkah serunya!

Konferensi Asia Afrika di Bandung itu sebagai bentuk perlawanan atas penjajahan yang dilakukan oleh bangsa barat. Pertemuan itu bisa dikatakan sebagai simbol perlawanan dan kebangkitan dari bangsa-bangsa di Asia dan Afrika yang dulunya tertidas akibat kekejaman dan ketamakan bangsa-bangsa yang datang dengan kapal dan senjata modern pada masa itu.

Ir. Soekarno dan Kepala Negara Asia Afrika Berjalan di Depan Gedung MerdekaSampai sekarang simbol itu masih dipertahankan,  oleh karena itu Gedung Asia Afrika itu diubah namanya menjadi Gedung Merdeka yang maksudnya memberikan inspirasi bagi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk merdeka. Semangat dan kekuatannya itu sampai sekarang masih terasa jika kita berdiri di depan atau di dalam gedung tua bersejarah itu.

Kita masih bisa membayangkan prosesi jalan kaki Ir. Soekarno bersama kepala-kepala negara di Asia Afrika lain yang jalan kaki di jalan Asia Afrika dan kemudian masuk ke Gedung Merdeka tersebut, satu hari sebelum pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika tahun 1955 dilaksanakan.

Kita bisa bayangkan bangsa-bangsa yang ingin merdeka berjalan bersama dalam rasa senasib dan sepenanggungan akibat kekejaman penjajahan barat itu. Langkah-langkah kepala-kepala negara itu di depan Gedung Merdeka itu tidak sesederhana langkahnya, tetapi itu menunjukkan kebersamaan bangsa-bangsa terjajah dalam mencapai kemerdekaannya. Indonesia yang telah merdeka pada tahun 1945 telah menularkan semangat kemerdekaan itu di gedung yang sangat antik itu.

Sejarah Gedung Asia AfrikaSejarah Gedung Asia AfrikaKini gedung seluas 7.500 m2 tersebut digunakan sebagai museum yang memamerkan berbagai benda koleksi dan foto Konferensi Asia-Afrika yang merupakan cikal bakal Gerakan Non-Blok. Gerakan Non Blok juga merupakan upaya perdamaian pada masa perang dingin yang berkecamuk akibat perseteruan Blok Barat dan Blok Timur.

Konferensi Asia Afrika yang kemudian merubah nama gerakannya menjadi Gerakan Non Blok tersebut  ingin menunjukkan jati diri bangsa Asia Afrika yang cinta damai dan tidak ingin terlibat dalam perseteruan tersebut.

Gedung Merdeka di rancang oleh Van Galen Last dan C.P. Wolff Schoemaker pada tahun 1926. Kedua insinyur ini adalah Guru Besar pada Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandoeng - yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung - ITB).

Gedung dengan nuansa art deco yang megah ini berlantai marmer buatan Italia yang mengkilap, ruangan-ruangan tempat minum-minum dan bersantai terbuat dari kayu cikenhout. Sejarah Gedung Asia AfrikaPembangunannya dilaksanakan pada tahun 1895 dan dinamakan Sociƫteit Concordia, dan pada tahun 1926 bangunan ini direnovasi seluruhnya oleh Wolff Schoemacher, Aalbers dan Van Gallen.

Gedung Sociƫteit Concordia dipergunakan sebagai tempat rekreasi dan sosialisasi oleh sekelompok masyarakat Belanda yang berdomisili di kota Bandung dan sekitarnya. Mereka adalah para pegawai perkebunan, perwira, pembesar, pengusaha, dan kalangan lain yang cukup kaya. Pada hari libur, terutama malam hari, gedung ini dipenuhi oleh mereka untuk berdansa, menonton pertunjukan kesenian, atau makan malam.

Setelah Jepang berkuasa di Indonesia gedung ini dinamakan Dai Toa Kaman dengan fungsinya sebagai pusat kebudayaan. Pada masa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 gedung ini digunakan sebagai markas pemuda Indonesia guna menghadapi tentara Jepang yang pada waktu itu enggan menyerahkan kekuasaannya kepada Indonesia.

Tahun 1955 Gedung Merdeka dijadikan sebagai Gedung Konstituante. Pada tahun 1959 Gedung Merdeka dijadikan tempat kegiatan Badan Perancang Nasional dan kemudian menjadi Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang terbentuk tahun 1960. Meskipun fungsi Gedung Merdeka berubah-ubah dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan yang dialami dalam perjuangan mempertahankan, menata, dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia , nama Gedung Merdeka tetap terpancang pada bagian muka gedung tersebut sampai sekarang ini.

Photografer : Regina Natasya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar